Fastabiqul khaira


Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

Dalam Gelap Tak Berucap



Di antara lorong-lorong perut bumi
Berharap tertimpa cahaya
Memberi sempat meski hanya angan belaka
Dalam gelap aku berdiam
Tak mampu berucap meski sekecap
Hingga kini ku menghitam, membatu, dan menua
Dalam heningnya malam
Jagad kelam, bumi mencekam
Lewat celah tanah yang tandus
Mengintip dunia menantang rinai
Melawan kecepatan cahaya surya
Terselip pengharapan di dasar kegelisahan
Menanti bintang membagi sedikit sinar
Atau merpati mengirim sebuah bohlam
Di antara bayang semu, aku membisu
Sendiri tak berkawan, tak berucap, tak bergerak
Tak ingin hanya diam membatu dalam gelap
Ataupun tinggal berharap seberkas cahaya menimpa
Tak ingin hanya menanti
Dan mengharap uluran tangan saja
Tapi dalam gelap
Berusaha agar bisa lari dari keterpurukan

Jumat, 16 Agustus 2013

Memori Semburat Jingga



Setiap kumemandang senja
Tergambar jelas senyummu nan indah
Teringat saat hati terpaut menjadi satu
Dari lembah nirwana, kau hadir memahat tawa
Merapikan kepingan masa lalu
Merangkai menjadi sebuah mozaik

Setiap kumemandang senja
Ada gejolak yang beriak-riak di dalam dada
Mengeja namamu
Mengalunkan suaramu
Membisikkan doa yang kau lantunkan untukku

Setiap kumemandang senja
Ia menghadiahkan setitik air dari mata ini
Mengobarkan perasaan iri
Akan mereka yang begitu dekat
Membangkitkan rindu
Yang sempat terlupa oleh euforia nurzaman
Ia mengingatkanku akan engkau yang ada jauh di sana
Meningalkan separuh asa
Tentang hati yang sempurna

 

Jumat, 26 April 2013

Api di Langit Kota


Kemeriahan kota yang mempesona
Dan letusan-letusan kecil di langit malam
Membayangkan suaranya
Mengira-ira rupanya
Seperti air mancur yang melayang-layang
Ia hadir di malam hari yang gelap
Dengan warna-warni yang membawa keceriaan
Sejenak ia mampu melepas penat
Meramaikan suasana baru yang dinanti seluruh jiwa
Dari layar beberapa inchi
Api itu menari membentuk alur
Diantara gedung-gedung yang menjulang
Bunga-bunga api menampakkan wajahnya
Dan pudar seiring detik yang berganti
Namun, tak mampu kulihat dilangitku
Hanya ada di kota sana
Dan hanya mampu kutatap lewat gambar

Baturetno, 31 Desember 2012

Selasa, 08 Januari 2013

DARIMU



Kala sepi memeluk diri
Kala tangis menghias pipi
Kala diri tak mampu berdiri
Bukan sepi juga bukan tangis
Namun, uluran tanganmu yang menggapai jemariku
Aku sering mengadu, aku sering meminta
Sering pula melanggar ketentuan-Mu
Aku bukanlah hamba yang sempurna
Buka pula makhluk tanpa dosa
Tapi, Kau basuh setiap tangisku
Kau lindungi aku dari mara bahaya
Kau beri rahmat di setiap jalanku
Kau tuntun aku dan sayangiku
Aku Kau beri kasih sayang, tapi tak mampu membalas
Aku Kau beri berkah, namun ku jarang bersyukur
Ya Allah, sayangmu...
Cukup membuatku tersenyum dan meraba cakrawala hingga kini
Melanglang buana Kau menyiratkan kuasa-Mu
Melukis di kanvasku yang terlampau hitam

Rabu, 16 Mei 2012

Saat Rindu Menghantam


Ketika nirwana mulai menjingga
Raja siang tergantikan oleh dewi malam
Semburat merah melukis langit barat
Mega-mega berarakan membentuk benteng perang

Angin sepoi-sepoi mrnghantam wajahku
Menyibak rambutku
Membelai lembut mata sembabku

Aku masih bertahan...
Meski hujan mengguyur
Meski terik menyapa
Meski dirimu tak di sini

Jauh di sana kulihat angsa-angsa berdansa
Lumba-lumba memecah ombak
Burung-burung bermigrasi

Aku masih bertahan...
Memanti hadirmu
Mereka bayangmu
Merekam setiam senyum simpulmu

Andai kau hadir bersama angin yang berhembus
Bangku ini tak sekedar saksi bisu
Atau selaksa cerita usang
Mengingatkan dalam kenangam masa lalu

Di bawah pohon itu
Daun kering berserakan
Siluetmu terlihat klise
Menyapu keheningan dalam diam

Aku masih bertahan...
Menunggu dalam ketidak pastian
Berharap awan lembayung membawamu kemari

Saat rindu menghantam,
Aku...
Masih...
Bertahan...
Hingga tahlil berkumandang
Dan nisan berdiri tegak

Rabu, 16 Mei 2012
Maulida Abdillah Alfaruqy