Fastabiqul khaira


Rabu, 16 Mei 2012

Saat Rindu Menghantam


Ketika nirwana mulai menjingga
Raja siang tergantikan oleh dewi malam
Semburat merah melukis langit barat
Mega-mega berarakan membentuk benteng perang

Angin sepoi-sepoi mrnghantam wajahku
Menyibak rambutku
Membelai lembut mata sembabku

Aku masih bertahan...
Meski hujan mengguyur
Meski terik menyapa
Meski dirimu tak di sini

Jauh di sana kulihat angsa-angsa berdansa
Lumba-lumba memecah ombak
Burung-burung bermigrasi

Aku masih bertahan...
Memanti hadirmu
Mereka bayangmu
Merekam setiam senyum simpulmu

Andai kau hadir bersama angin yang berhembus
Bangku ini tak sekedar saksi bisu
Atau selaksa cerita usang
Mengingatkan dalam kenangam masa lalu

Di bawah pohon itu
Daun kering berserakan
Siluetmu terlihat klise
Menyapu keheningan dalam diam

Aku masih bertahan...
Menunggu dalam ketidak pastian
Berharap awan lembayung membawamu kemari

Saat rindu menghantam,
Aku...
Masih...
Bertahan...
Hingga tahlil berkumandang
Dan nisan berdiri tegak

Rabu, 16 Mei 2012
Maulida Abdillah Alfaruqy

Selasa, 15 Mei 2012

MIZ dalam Hati

Aku masih teringat kala itu. Memoriku masih kuat menyimpannya. Dia, orang yang saat ini membuatku sering tersenyum sendiri, telah menarik lebih dari sepertiga perhatianku. Aku sering bingung rasa apa yang sedang aku rasakan. Tapi, rasa ini muncul sejenak setelah kukenalkan pada hatiku kata "nge'fans" lama kelamaan, kini telah menjadi "suka:".
Bagi sebagian insan, ini adalah hal yang wajar. Namun kadang bagiku terasa bodoh. Aku baru bertemu dengannya sebanyak 2 kali, di Aula Dinas dan di SMP 1 Wng. Awalnya biasa saja, namun setelah pertemuan pertama, batinku bergejolak, rupanya aku menyukainya. Karena telah cukup lama tidak bertemu, akhirnya pertemuan kedua itu menghampiri juga. Rasa yang memudar, ternyata tumbuh kembali mengusik hidupku.
Wahai ia yang mengganggu pikiranku ini, mohon, ucapkan sedikit saja kata untuk menyiram kegersanganku atau sekedar balas inbox'ku di Facebook, aku akan bangga dan bahagia dengan itu. Aku tahu, itu gila dan membuatmu bingung atau risih, karena kamu mungkin lupa kepadaku. Tapi, suatu saat nanti kenalilah aku sebagai rivalmu dulu.
Terima kasih telah mengenalkan arti mengagumi secara long distance. Bagiku, cukup saja sampai batas ini, jika bisa lebih, maka konsentrasiku akan lebih terkuras lagi. Terima kasih untukmu...